Let me tell
you, ini adalah sebuah kisah mengenai sebutir beras dan sebuah karet gelang.
Kejadiannya terjadi sekitar bulan januari empat tahun yang lalu, Dikisahkan
sekelompok gadis masing-masing diberikan sebutir beras dan satu karet gelang
untuk bersama oleh seseorang tetua. Tanpa tahu untuk apa, tetua hanya
mengatakan beras dan karet gelang itu sebagai bekal menempuh perjalanan ujian
kehidupan yang mereka -para tetua- sebut internalisasi, dan serahkan jika sudah
saatnya diminta.
Berangkatlah
mereka menuju ujian kehidupan itu. Diantara kami, akulah yang memegang peranan
penting untuk menyimpan pusaka kelompok itu –karet gelang-, menyimpan aman
hingga pada waktunya diminta.
Aku kemudian
menyimpan butir beras itu disaku rokku, tempat teraman, setidaknya menurutku.
Dan kemudian aku melilitkan karet gelang dijariku agar aku merasa mudah untuk
melihatnya. Karena itu adalah “pusaka” bersama jadi aku harus menjaganya
hati-hati.

Kami kemudian
berjalan melalui ujian pertama, tapi beras dan karet gelang itu tidak
ditanyakan. Kami berjalan lagi hingga pada akhirya sampailah kami pada pos yang
kami –para peserta ujian- menamakannya pos “amanah”. Tetua disana kemudian
menanyakan beras yang kami bawa dan karet gelangnya. Kemudian teman-teman yang lain menyerahkan
butiran beras mereka. Ada yang masih utuh dan adapula yang sampai hancur
berkeping-keping. Dan Aku dengan bangganya karena telah menyimpan-aman “pusaka”
kelompok kami itu menyerahkan kepada tetua. Setelah itu kemudian aku pun
merogoh saku mencari butiran beras yang sangat aku percayai masih ada di dalam
sana. Panik. Sudah satu menit berjalan tapi aku tetap tak menemukan butiran
berasku. Dan karena agak-terlalu lama kemudian aku mengaku menghilangkannya
-dengan terpaksa- padahal jika waktu diminta lebih akan aku cari lebih pelan
dan hati-hati.
Mendengar hal
itu, sang tetua kemudian memarahi aku. Dia bertanya padaku : “tahukah engkau
apa artinya beras itu? Tahukah engkau? “. Aku jawab “tidak”. Kemudian sang
tetua itu pun memarahi teman kelompokku yang lain: “kenapa kalian membiarkan
dia (sambil menunjukku) menjaga karet gelang, sementara dia sendiri kehilangan
beras?”. Tetua bertanya lagi, “dari perjalanan awal hingga sekarang, karet
gelang ini ada pada siapa saja?”. Kami menjawab “Aisyi”. Tetua kemudian
bertanya lagi pada kami, “pernahkah kalian mengingatkan satu sama lain mengenai
keadaan beras saudara kalian?”. Kami menjawab “tidak”. Sungguh tak percaya,
tetua sangat tidak percaya dengan jawaban itu. Beliau kemudian menjelaskan
makna beras dan karet gelang yang kami bawa-bawa selama perjalanan kami.

“Beras itu
ibarat amanah masing-masing orang, amanah individu. Dan karet gelang adalah
amanah kelompok. Kejadian ini sangatlah memalukan. Bagaimana mungkin kamu
(menunjuk aku) begitu hati-hati menjaga amanah kelompok hingga harus kehilangan
dan melupakan amanahnya sendiri. Kalian itu begitu dzalim tak memperhatikan
saudaramu. Dan meski yang hilang adalah satu butir beras dari saudaramu, maka
yang bersalah adalah semuanya. Salah kamu (menunjuk aku) karena tak dapat
menjaga amanah diri sendiri, dan salah kalian (pada temanku yang lain) karena
membebankan hanya pada satu orang hingga akhirnya amanahnya ia lupakan.”
Ketika
mendengar penjelasan itu, hatiku bergetar ketakutan, tidak, tidak, saya adalah
seseorang yang egois, bagaimana mungkin aku begitu menjaga amanah kelompok
sedangkan amanah aku sendiri aku lupa. Aku adalah orang yang sangat apik dalam
menjaga sesuatu. Dan kehilangan beras adalah benih ketakutan yang sangat kecil,
namun cukup untuk menggoyahkankan bangunan kehati-hatianku. Aku tidak percaya.
Aku ingin mencoba kembali mencari berasku hingga dapat. Tidak. Ternyata tidak
bisa. Tak diizinkan.
Kamipun
kemudian menerima hukuman kami, karena, ya, kami menyadari kesalahan kami
semua. Aku yang menjaga amanah kelompok dan saudaraku yang lain yang
“membebankan” amanah kelompok padaku saja.
Setelah kami
menerima hukuman kami dari tetua. Tetua memberikan penjelasannya “
bla..bla..bla..”, aku tak begitu kosentrasi mendengarkannya karena pada saat
tetua berbicara, aku mencuri waktu untuk mencari kembali berasku. Merogoh lebih
dalam lagi..lagi …dan lagi. Dan.
“Alhamdulillaah…”
teriakku setengah menangis, kemudian aku menunjukkan berasku yang telah menjadi
bongkahan yang lebih kecil daripada sebutir beras itu pada tetua, memohon maaf
padanya. Dan menunjukkan bahwa aku masih menjadi orang yang amanah.
“terlambat…” tetua menanggapi. Dikatakan seperti itu, hati rasanya sudah
seperti cermin yang pecah
berkeping-keping.
Tahun demi
tahun berlalu kemudian aku melihat bagian terdalam dari hati, bercermin,
kemudian mengatakan pada bayangan diseberang sana, “entah ini adalah sifat
sejati. Beras dan karet gelang padamu seakan seperti kutukan bagimu. Selama ini
engkau tak pernah bisa lepas dari sang karet, dan sampai kapan engkau berlepas
darinya? berlepaslah padanya, berikan pada yang lain, agar engkau bisa mulai
menanak sebutir berasmu”
*)rampung 07.44 WIB, Selasa 1 Juli 2014/4 Romadhon 1435H. Terinspirasi dari internalisasi saat Daurah Marhalah 1 KAMMI UPI Januari 2010