Selasa, 01 Juli 2014

KISAH SEBUTIR BERAS DAN SEBUAH KARET GELANG



Let me tell you, ini adalah sebuah kisah mengenai sebutir beras dan sebuah karet gelang. Kejadiannya terjadi sekitar bulan januari empat tahun yang lalu, Dikisahkan sekelompok gadis masing-masing diberikan sebutir beras dan satu karet gelang untuk bersama oleh seseorang tetua. Tanpa tahu untuk apa, tetua hanya mengatakan beras dan karet gelang itu sebagai bekal menempuh perjalanan ujian kehidupan yang mereka -para tetua- sebut internalisasi, dan serahkan jika sudah saatnya diminta.
Berangkatlah mereka menuju ujian kehidupan itu. Diantara kami, akulah yang memegang peranan penting untuk menyimpan pusaka kelompok itu –karet gelang-, menyimpan aman hingga pada waktunya diminta.
Aku kemudian menyimpan butir beras itu disaku rokku, tempat teraman, setidaknya menurutku. Dan kemudian aku melilitkan karet gelang dijariku agar aku merasa mudah untuk melihatnya. Karena itu adalah “pusaka” bersama jadi aku harus menjaganya hati-hati.

Kami kemudian berjalan melalui ujian pertama, tapi beras dan karet gelang itu tidak ditanyakan. Kami berjalan lagi hingga pada akhirya sampailah kami pada pos yang kami –para peserta ujian- menamakannya pos “amanah”. Tetua disana kemudian menanyakan beras yang kami bawa dan karet gelangnya.  Kemudian teman-teman yang lain menyerahkan butiran beras mereka. Ada yang masih utuh dan adapula yang sampai hancur berkeping-keping. Dan Aku dengan bangganya karena telah menyimpan-aman “pusaka” kelompok kami itu menyerahkan kepada tetua. Setelah itu kemudian aku pun merogoh saku mencari butiran beras yang sangat aku percayai masih ada di dalam sana. Panik. Sudah satu menit berjalan tapi aku tetap tak menemukan butiran berasku. Dan karena agak-terlalu lama kemudian aku mengaku menghilangkannya -dengan terpaksa- padahal jika waktu diminta lebih akan aku cari lebih pelan dan hati-hati.
Mendengar hal itu, sang tetua kemudian memarahi aku. Dia bertanya padaku : “tahukah engkau apa artinya beras itu? Tahukah engkau? “. Aku jawab “tidak”. Kemudian sang tetua itu pun memarahi teman kelompokku yang lain: “kenapa kalian membiarkan dia (sambil menunjukku) menjaga karet gelang, sementara dia sendiri kehilangan beras?”. Tetua bertanya lagi, “dari perjalanan awal hingga sekarang, karet gelang ini ada pada siapa saja?”. Kami menjawab “Aisyi”. Tetua kemudian bertanya lagi pada kami, “pernahkah kalian mengingatkan satu sama lain mengenai keadaan beras saudara kalian?”. Kami menjawab “tidak”. Sungguh tak percaya, tetua sangat tidak percaya dengan jawaban itu. Beliau kemudian menjelaskan makna beras dan karet gelang yang kami bawa-bawa selama perjalanan kami.

“Beras itu ibarat amanah masing-masing orang, amanah individu. Dan karet gelang adalah amanah kelompok. Kejadian ini sangatlah memalukan. Bagaimana mungkin kamu (menunjuk aku) begitu hati-hati menjaga amanah kelompok hingga harus kehilangan dan melupakan amanahnya sendiri. Kalian itu begitu dzalim tak memperhatikan saudaramu. Dan meski yang hilang adalah satu butir beras dari saudaramu, maka yang bersalah adalah semuanya. Salah kamu (menunjuk aku) karena tak dapat menjaga amanah diri sendiri, dan salah kalian (pada temanku yang lain) karena membebankan hanya pada satu orang hingga akhirnya amanahnya ia lupakan.”
Ketika mendengar penjelasan itu, hatiku bergetar ketakutan, tidak, tidak, saya adalah seseorang yang egois, bagaimana mungkin aku begitu menjaga amanah kelompok sedangkan amanah aku sendiri aku lupa. Aku adalah orang yang sangat apik dalam menjaga sesuatu. Dan kehilangan beras adalah benih ketakutan yang sangat kecil, namun cukup untuk menggoyahkankan bangunan kehati-hatianku. Aku tidak percaya. Aku ingin mencoba kembali mencari berasku hingga dapat. Tidak. Ternyata tidak bisa. Tak diizinkan.
Kamipun kemudian menerima hukuman kami, karena, ya, kami menyadari kesalahan kami semua. Aku yang menjaga amanah kelompok dan saudaraku yang lain yang “membebankan” amanah kelompok padaku saja.
Setelah kami menerima hukuman kami dari tetua. Tetua memberikan penjelasannya “ bla..bla..bla..”, aku tak begitu kosentrasi mendengarkannya karena pada saat tetua berbicara, aku mencuri waktu untuk mencari kembali berasku. Merogoh lebih dalam lagi..lagi …dan lagi. Dan.
“Alhamdulillaah…” teriakku setengah menangis, kemudian aku menunjukkan berasku yang telah menjadi bongkahan yang lebih kecil daripada sebutir beras itu pada tetua, memohon maaf padanya. Dan menunjukkan bahwa aku masih menjadi orang yang amanah. “terlambat…” tetua menanggapi. Dikatakan seperti itu, hati rasanya sudah seperti cermin  yang pecah berkeping-keping.
Tahun demi tahun berlalu kemudian aku melihat bagian terdalam dari hati, bercermin, kemudian mengatakan pada bayangan diseberang sana, “entah ini adalah sifat sejati. Beras dan karet gelang padamu seakan seperti kutukan bagimu. Selama ini engkau tak pernah bisa lepas dari sang karet, dan sampai kapan engkau berlepas darinya? berlepaslah padanya, berikan pada yang lain, agar engkau bisa mulai menanak sebutir berasmu”




*)rampung 07.44 WIB, Selasa 1 Juli 2014/4 Romadhon 1435H. Terinspirasi dari internalisasi saat Daurah Marhalah 1 KAMMI UPI Januari 2010

0 komentar:

Posting Komentar