Mamah,
Maafkan aku yang telah lupa
meminta ridho darimu,
Dengan terburu-buru,
seraya menunjukkan dengan bangga
padamu
Bahwa hari ini,
aku mengambil jurusan Ahwalul
Syakhsiyah
sebagai pengganti jurusan
matematika
yang kandas dari peluang
Ya aku ambil jurusan ini,
hanya karena ingin,
karena judulnya hukum keluarga
islam
–ingin bergaya dengan hukum-
(ah…masa muda yang tak terencana)
Papah,
ternyata engkau
kurang percaya padaku
ketika kuputuskan mengambil
jurusan itu
Namun aku
tetap memaksa kalian
dengan dalih bisa belajar pada
sepupu
yang sudah menjadi hakim
berprestasi
Sepupu yang kemaren lusa,
jauh jauh tahun ambil jurusan yang
sama.
Pula,
Supaya jadi pegangan
bila di tes SNMPTN tak lulus,
dalihku
Akhirnya,
Materi pun keluar
Terbayar sudah dengan lunas
semua pembayaran dan tinggal
registrasi ulang
untuk OPAK.
Ya.
Aku.
Welcome, di UIN Sunan Gunung
Djati, jurusan Ahwalul Syakhsiyah angkatan 2008
Mamah..
papah…
aku diterima
di jurusan pendidikan teknik
elektro UPI
lewat tes SNMPTN…
Juli 2008
Bagaimana ini???
Dan ketika wajahmu papah,
entah sedang mengujiku
kesungguhanku dengan ahwalul syakhsiyah
atau memang tidak setuju,
aku kau Tanya kembali.
Sehingga membuatku goyah.
Hanya ingin membuatmu tenang melihatku
belajar.
Maka aku putuskan memilih
Pendidikan Teknik Elektro UPI.
Elektro,
adalah usaha terakhir
ketika impian dari astronomi
kuturunkan sedikit pada fisika
yang ternyata sama-sama kandas
diakhir usaha.
Elektro,
Bukan pelampiasan
Dan tak ada kecewanya pada ini.
Justru aku bahagia…
Melalui ini,
Aku mengenal satu kata
TARBIYAH
Apakah ini kekuatan keridhoan
kalian?
Elektro…
hingga suatu saat aku mendengarmu
mah berkata pada orang lain “iya nih ga tau. Masa perempuan ambil elektro?”.
Entah itu memang pernyataan yang
sedang “membanggakan” atau pernyataan sedang “mempertanyakan”. Titik.
Tibalah aku di semester 4,
yang mana harus mengambil
kosentrasi.
Lagi-lagi aku lupa meminta ridho
kalian ketika aku memutuskan mengisi KRS-ku dengan pilihan kosentrasi Listrik
tenaga.
Disaat-saat jauh seperti ini,
Aku mahasiswa rantau,
Yang tak bisa juga dikatakan rantau,
Karena jarak hanya 2 jam
perjalanan,
Dari rumah
Namun masih saja jarang pulang
mudik,
terpukau dengan kesibukan
aktifitas para aktifis.
Hingga akhirnya aku putuskan
untuk masuk LDK UKDM akhir 2009.
Namun dasar tak bermodal keridhoan.
Aku gagal ikut training
pelantikan gelombang 1 itu.
Aku mengundurkan diri tepat hari
H keberangkatan.
Karena engkau mah, datang
menghampiri meminta bantuan.
Januari 2010,
Masih penasaran dengan aktifitas
para aktifis,
Masih memutuskan untuk bergabung
dengan LDK UKDM,
dan berhasil dengan gelombang 2
nya.
Pada bulan yang sama
di minggu berikutnya aku ikut
juga,
Daurah Marhalah 1 KAMMI Komisariat
UPI,
Dan di minggu berikutnya di BAQI.
Masih tanpa meminta keridhoan-mu.
April 2010,
LDK UKDM loss..
karena kecewa,
Aku mendapati namaku tak
terdaftar dalam kader baru
(ah dasar mahasiswa baru, dengan
yang kaya gituan masih kecewa),
BAQI tak aku lanjutkan,
teman seangkatanku ku nilai tak
ramah.
Dan akhirnya ku berlabuh di
KAMMI.
Apakah ini masih efek dari
lupanya aku meminta keridho-anmu?
Sehingga 2 dari 3 organisasi,
lepas dariku?
3 tahun lalu,
aku bergabung dengan KAMMI Daerah
Bandung,
tak terfikir untuk meminta keridhoanmu.
Berjalan begitu saja.
Satu tahun yang lalu,
aku bergabung dengan KAMMI Wilayah
Jawa barat,
aku juga tak pernah berfikir
meminta ridho-mu.
Berjalan begitu saja.
3 tahun yang lalu
aku bergabung di KPU REMA UPI
2011
juga sama,
2 tahun yang lalu bergabung di
KPU REMA UPI 2012 juga sama.
Dan tahun ini,
sebagai kepala sekolah CERMAT,
aku masih (pula) tak terpikir
untuk meminta ridho-mu.
Dan masih banyak lagi kegiatan
yang aku tak terfikir untuk
meminta ridho-mu.
Pun beberapa kalau ingat
itupun bersifat mendesak
Mendesak keridhoan,
karena terlanjur dilakoni.
Begitu pula di detik ini,
bergabung dengan tim pengajar SMP
DT,
Aku meminta keridhoan-mu,
Namun tanpa menelisik jauh
kedalam mata kalian
Tanpa menatap kalian.
Berlalu begitu saja

Namun,
Masih,
Slalu,
Tetap.
setiap malam kalian mendoakan
yang terbaik untukku
Meski mungkin ada
satu atau dua
bongkah hati yang terpecah
karena “keterlanjuranku” dengan
segala aktifitasku,
Hingga kuliahku yang menginjak
tahun ketujuh inipun…
Malu aku,
Terharu aku,
ketika tadi siang engkau,
Mah,
tersedu-sedu mendoakanku
melalui telefon ditengah istirahatku
ketika sedang pelatihan di
sekolah..
supaya ilmu yang aku dapat
bisa bermanfaat..
semoga barokah…
malu aku
mah, pah
Malu
Dalam lupaku,
Dengan keridhoan kalian






0 komentar:
Posting Komentar