Rabu, 06 Agustus 2014

LUPA DENGAN RIDHO-MU


Mamah,
Maafkan aku yang telah lupa meminta ridho darimu,
Dengan terburu-buru,
seraya menunjukkan dengan bangga padamu
Bahwa hari ini,
aku mengambil jurusan Ahwalul Syakhsiyah
sebagai pengganti jurusan matematika
yang kandas dari peluang

Ya aku ambil jurusan ini,
hanya karena ingin,
karena judulnya hukum keluarga islam
–ingin bergaya dengan hukum-
 (ah…masa muda yang tak terencana)

Papah,
ternyata engkau
kurang percaya padaku
ketika kuputuskan mengambil jurusan itu

Namun aku
tetap memaksa kalian
dengan dalih bisa belajar pada sepupu
yang sudah menjadi hakim berprestasi
Sepupu yang kemaren lusa,
jauh jauh tahun ambil jurusan yang sama.

Pula,
Supaya jadi pegangan
bila di tes SNMPTN tak lulus,
 dalihku

Akhirnya,
Materi pun keluar
Terbayar sudah dengan lunas
semua pembayaran dan tinggal registrasi ulang
untuk OPAK.

Ya.
Aku.
Welcome, di UIN Sunan Gunung Djati, jurusan Ahwalul Syakhsiyah angkatan 2008

Mamah..
papah…
aku diterima
di jurusan pendidikan teknik elektro UPI
lewat tes SNMPTN…
Juli 2008
Bagaimana ini???

Dan ketika wajahmu papah,
entah sedang mengujiku kesungguhanku dengan ahwalul syakhsiyah
atau memang tidak setuju,
aku kau Tanya kembali.
Sehingga membuatku goyah.
 Hanya ingin membuatmu tenang melihatku belajar.
Maka aku putuskan memilih
Pendidikan Teknik Elektro UPI.

Elektro,
adalah usaha terakhir
ketika impian dari astronomi
kuturunkan sedikit pada fisika
yang ternyata sama-sama kandas diakhir usaha.

Elektro,
Bukan pelampiasan
Dan tak ada kecewanya pada ini.
Justru aku bahagia…
Melalui ini,
Aku mengenal satu kata
TARBIYAH

Apakah ini kekuatan keridhoan kalian?

Elektro…
hingga suatu saat aku mendengarmu mah berkata pada orang lain “iya nih ga tau. Masa perempuan ambil elektro?”.
Entah itu memang pernyataan yang sedang “membanggakan” atau pernyataan sedang “mempertanyakan”. Titik.

Tibalah aku di semester 4,
yang mana harus mengambil kosentrasi.
Lagi-lagi aku lupa meminta ridho kalian ketika aku memutuskan mengisi KRS-ku dengan pilihan kosentrasi Listrik tenaga.

Disaat-saat jauh seperti ini,
Aku mahasiswa rantau,
Yang tak bisa juga dikatakan rantau,
Karena jarak hanya 2 jam perjalanan,
Dari rumah
Namun masih saja jarang pulang mudik,
terpukau dengan kesibukan aktifitas para aktifis.
Hingga akhirnya aku putuskan untuk masuk LDK UKDM akhir 2009.
Namun dasar tak bermodal  keridhoan.
Aku gagal ikut training pelantikan gelombang 1 itu.
Aku mengundurkan diri tepat hari H keberangkatan.
Karena engkau mah, datang menghampiri meminta bantuan.

Januari 2010,
Masih penasaran dengan aktifitas para aktifis,
Masih memutuskan untuk bergabung dengan LDK UKDM,
dan berhasil dengan gelombang 2 nya.

Pada bulan yang sama
di minggu berikutnya aku ikut juga,
Daurah Marhalah 1 KAMMI Komisariat UPI,
Dan di minggu berikutnya di BAQI.
Masih tanpa meminta  keridhoan-mu.

April 2010,
 LDK UKDM loss..
karena kecewa,
Aku mendapati namaku tak terdaftar dalam kader baru
(ah dasar mahasiswa baru, dengan yang kaya gituan masih kecewa),
BAQI tak aku lanjutkan,
teman seangkatanku ku nilai tak ramah.
Dan akhirnya ku berlabuh di KAMMI.
Apakah ini masih efek dari lupanya aku meminta  keridho-anmu?
Sehingga 2 dari 3 organisasi, lepas dariku?

3 tahun lalu,
aku bergabung dengan KAMMI Daerah Bandung,
tak terfikir untuk meminta  keridhoanmu.
Berjalan begitu saja.

Satu tahun yang lalu,
aku bergabung dengan KAMMI Wilayah Jawa barat,
aku juga tak pernah berfikir meminta ridho-mu.
Berjalan begitu saja.

3 tahun yang lalu
aku bergabung di KPU REMA UPI 2011
juga sama,
2 tahun yang lalu bergabung di KPU REMA UPI 2012 juga sama.

Dan tahun ini,
sebagai kepala sekolah CERMAT,
aku masih (pula) tak terpikir untuk meminta ridho-mu.
Dan masih banyak lagi kegiatan
yang aku tak terfikir untuk meminta ridho-mu.
Pun beberapa kalau ingat
itupun bersifat mendesak
Mendesak keridhoan,
karena terlanjur dilakoni.

Begitu pula di detik ini,
bergabung dengan tim pengajar SMP DT,
Aku meminta keridhoan-mu,
Namun tanpa menelisik jauh kedalam mata kalian
Tanpa menatap kalian.
Berlalu begitu saja
                                                               

Namun,
Masih,
Slalu,
Tetap.
setiap malam kalian mendoakan yang terbaik untukku
Meski mungkin ada
satu atau dua
bongkah hati yang terpecah
karena “keterlanjuranku” dengan segala aktifitasku,
Hingga kuliahku yang menginjak tahun ketujuh inipun…

Malu aku,
Terharu aku,
ketika tadi siang engkau,
Mah,
tersedu-sedu mendoakanku
 melalui telefon ditengah istirahatku
ketika sedang pelatihan di sekolah..
supaya ilmu yang aku dapat
bisa bermanfaat..
semoga barokah…
malu aku
mah, pah

Malu
Dalam lupaku,

Kalian tetap mengingatku,
Dengan keridhoan kalian




 -------------------
renungan tak pernah salah, bila ia masih dalam koridor dan menghasilkan ketauhidan
--------------------


 *oleh Fauziyah Kariem Aisyi
ditulis di kosan tercinta, ditinggal tidur oleh Fahmi Ulfah Darojat (yang akhirnya dia yang masuk di UIN jurusan Sejarah Peradaban Islam angkatan 2013)

Bandung, 
Rabu, 6 Agustus 2014
pukul 23.23

0 komentar:

Posting Komentar