oleh : Fauziyah Kariem Aisyi
(ditulis pada 10 September 2010 pukul 4:51)
ketika malas mendera, tapi amanah meminta haknya untuk dikerjakan
sering terasa ketika malas mendera, tapi ada amanah yang harus diselesaikan, maka yang keinginan yang pertama kali terbersit adalah membiarkannya sehingga dikerjakan oleh orang lain
maka terselesaikanlah amanah tersebut oleh orang lain...
hati merasa tenang karena pekerjaan sudah terselesaikan oleh orang lain...
tapi satu hal yang terasa yang mengganjal...
ada satu hal yang pasti tercabik-cabik :
>> izzah (mungkin "feel"-nya lebih tepat dikatakan daripada kehormatan), karena pasti yang memberi amanah tidak akan atau kurang percaya terhadap kita. karena anggapannya kita tidak akan mampu melaksanakan hal yang lainnya
bagi orang yang ingin dipercayai tapi dia tidak mau bekerja keras, ya selamat untuk selalu merasa tercabik-cabik "izzah"-nya
mungkin sebagian contoh kecil, sederhana nan mudah dicerna yaitu:
ketika orang tua katakanlah ibu (baca : orang yang memberi amanah), menyuruh kita mencuci piring (misalkan>>baca : amanah).
Tapi karena kita merasa malas sampai berulang kali dipanggil kita tak menyahut (baca: menanggapi..untuk menghindari dari perintah tersebut) sampai sekian lamanya
maka ibu kita langsung menyuruh saudara kita yang lain untuk melaksanakan tugas kita
ya pastii kita telah terbebas dari "perintah tersebut".lega rasanya, tak ada lagi beban moril yang harus ditanggung (beban takut dimarahi>> tapi keinginan menolak "perintah" itu terlalu kuat maka kita lebih menurut pada keinginan itu dengan kesanggupan menerima resiko apapun )
akhirnya beberapa waktu telah berlalu, alhasil ketika ibu kita membutuhkan bantuan selalu saja meminta pada saudara kita itu,
sebagai saudaranya pastilah kita tidak bisa tinggal diam saja!!!!
masa yang membantu ibu kita hanya saudara kita itu?
pastilah ada rasa "merasa tak berguna" dalam diri kita, dan kita pasti tak mau rasa itu menggerogoti pikiran dan perasaan kita
tapi kesempatan untuk membantu tak kunjung datang, rasa "merasa tak berguna" itu mencabik-cabik lebih dalam lagi
hikmah yang dapat di ambil dari peristiwa di atas adalah :
ketika di beri amanah maka laksanakan, kita sudah dewasa tak perlu lagi menunggu perintah, kita harus "hideng" sendiri terhadap apa-apa yang ada di sektar kita
jika itu tidak baik, maka segeralah memperbaikinya, tak usah menunggu nanti dan nanti, tak usah menunggu orang lain mengerjakannya. cukup yakinkan sendiri kita mampu melaksanannya sendiri
mungkin peristiwa diatas bukan terjadi antar kita dan ibu kita saja, tapi mungkin pernah terjadi diantara kita dengan kawan kita,rekan kerja kita
maka hati-hatilah kawan, ayo berlomba-lombalah dalam kebaikan...
ikhlas-kan diri...
pahala kita takkan tertukar dengan orang lain
ALLAH MAHATELITI, dengan apa yang ada dihati sekalipun
ALLAH MAHA MENGETAHUI
artikel ini bukan hanya untuk saya saja, tapi untuk kita semua. semoga dapat diambil hikmahnya
bukan hanya diambil, tapi juga melakukan perubahan agar lebih baik
mohon maaf apabila ada kesalahan kata maupun kesamaan cerita apalagi ga ngerti isinya (hehehe)
semoga bermanfaat>>>aamiin






0 komentar:
Posting Komentar